Baru-baru sebuah video berdurasi 15 detik yang merekam beberapa sosok yang diduga mayat terendam dalam bak air viral di media sosial. Lokasi penemuan mayat itu disebut dalam video adalah Universitas Prima Indonesia (Unpri) Medan, Sumatra Utara. Video tersebut kemudian menjadi viral di media sosial sehingga memicu kehebohan dan membuat kepolisian menggeledah kampus. Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Hadi Wahyudi, mengatakan polisi telah mengerahkan tim dari laboratorium forensik dan Inafis untuk mengusut temuan mayat itu.

Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Prima Indonesia, Kolonel (Purn) Drg Susanto, menyebut lima mayat yang ditemukan polisi tersebut bukan korban pembunuhan di kampusnya melainkan adalah kadaver yang digunakan sebagai kepentingan pendidikan kodekteran.

Susanto kemudian menjelaskan bahwa saat ini Fakultas Kedokteran Unpri Medan memiliki lima kadaver: 1 perempuan dan 4 laki-laki. Namun demikian, ia tidak menjelaskan identitas dari kelima kadaver tersebut, termasuk dari mana diperoleh. Klaimnya pada klarifikasi setiap fakultas kedokteran di Indonesia memiliki kadaver sebagai media pembelajaran dan peraturan tentang cadaver telah diatur di undang-undang.

Apa Itu Kadaver ?

Menurut Ketua Departemen Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Sasanthy Kusumaningtyas, kadaver adalah jenazah yang dipergunakan untuk pendidikan kedokteran. Kadaver bisa diperoleh dari donor atau orang-orang yang menyumbangkan tubuh mereka untuk kepentingan pendidikan kedokteran.

Selain donor, kadaver juga bisa didapatkan dari  jenazah yang tidak dikenal atau tidak diurus oleh keluarganya atau disebut jenazah terlantar. Menurut Dokter Spesialis Patologi Forensik di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, Ade Firmansyah, status jenazah terlantar tersebut bisa didapatkan dari rumah sakit dan telah dipublikasikan untuk dicarikan keluarganya setidak-tidaknya satu bulan sejak kematiannya.

Karena dipakai untuk pendidikan kedokteran, kadaver harus dipelihara dengan baik supaya tidak busuk. Itu mengapa biasanya kadaver diawetkan dengan cara disuntikkan dengan zat pengawet, disimpan dalam lemari pendingin, atau diletakkan dalam rendaman formalin. Akan tetapi kadaver tidak boleh disimpan selamanya, menurut Ketua Departemen Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Sasanthy Kusumaningtyas, Pihak berwenang di kampus memiliki kewajiban untuk menguburkan kadaver tersebut secara layak seperti didoakan terlebih dahulu sebelum dikubur.